<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2126963696605132149</id><updated>2011-04-21T13:55:22.174-07:00</updated><title type='text'>change now</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://resensiku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2126963696605132149/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>resensi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01938588471921734853</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2126963696605132149.post-4496315615440896525</id><published>2007-11-07T21:47:00.000-08:00</published><updated>2007-11-07T21:50:29.045-08:00</updated><title type='text'>SEMI</title><content type='html'>Semi nama ibuku. Singkat, padat, tanpa tambahan dan embel-embel lain. Kata ibuku, sebenarnya dulu orang tuanya memberi nama jumirah. Kenapa diganti bu, ceritanya panjang ndok,. Begitulah sahutan ibuku saat kutanya.&lt;br /&gt;Kalau jaman Sekarang mah, nama kayak gitu nggak gaul gitu! Aku malu yang setiap kali ditanya orang atau temen, siapa nama ibumu Linda? Aku hanya cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya nggak gatel, apalagi pakek jilbab, aku jarang menjawab kecuali kepepet!”. Seharusnya tak ada lagi yang punya namanya Semi seperti ibuku. Lihat temen-temenku punya ibu namanya Karen-keren…..Widya ningrum, zumarleni, Diah permata sari. Tak ada namanya sejelek dan sependek ibuku…, semi, huh!. Nama macam apa itu, sama sekali nggak gaul, nggak Keren!” protesku pada ibuku. Ibuku hanya menjawab dengan senyum, bikin sebel makin sebel aja. Sejak kecil sampai Sekarang aku terpaksa harus ihklas diejek, diolok-olok dan menerima pendapat temen-temenku bahwa orang yang namanya Semi mah sudah bukan jamannya lagi. Adanya jaman purbakala, orang jaman dulu alias wong dueso so..so! katrok sebutan tukul. Sedang aku anak SMA yang bergaul sama anak orang-orang elit yang nama-nama ibunya keren-keren, nggak kayak nama ibuku Semi.&lt;br /&gt;Aku juga harus Siap nelan ludah mentah-mentah saat tatapan heran dan tak percaya dari setiap orang tua temenku yang mendengarkan nama ibuku, Semi. itu Cuma plesetan kan? Bukan nama asli? Atau memang ibumu keturunan jaman dulu? Atau yang lebih parah lagi “ah, becanda kamu, masak ngenalin ibunya pakek nama plesetan?” begitu selalu komentar mereka saat kata semi terucap dari mulutku.&lt;br /&gt;Begitulah, aku frustasi gara-gara nama itu. Aku jadi minder takut ketahuan saat mengisi formulir atau ditanyain sama guru-guru takut diketawain. Pernah kuusulkan agar ibu ganti nama, tapi bapak yang mendengar spontan marah. “kamu pikir ganti nama itu gampang? Perlu acara syukuran supaya orang-orang tahu nama ibumu bukan lagi semi! Belum lagi mengurus surat-surat penting, akte kelahiranmu, rapot-rapotmu SD sampai SMA Sekarang. Semua itu butuh biaya dan waktu yang tidak sedikit, ndok! Lagipula orang desa sini suka memanggilnya dan lebih enak dikenal. Sudahlah, kamu nggak usah nanggepi temen-temenmu yang sok kaya itu, lebih baik kamu memikirkan masa depanmu yang masih panjang! Ndak usah kayak anak kecil!” kata bapak tegas membuatku tertunduk diam seribu bahasa. Ibu hanya tersenyum, mengelus kepalaku dan membenahi jilbabku. “ibu mengerti perasaanmu. Tapi percayalah suatu saat nanti ibu bakal cerita sejarah nama ibu dan itu kamu harus tahu nak!” kenapa nggak Sekarang aja bu? Tanyaku spontan. Belum saatnya, ndok?. jawab ibu dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;Aku mendengus kesal dan pergi kebelakang rumah. Dipinggir kolam ikan pikiranku melayang-layang. Kata-kata bapak dan ibu barusan dan orang-orang apalagi temen-temenku yang sontoloyo itu. selalu terngiang ditenlinga. “Semi….apalah arti semi??. Tak ada artinya sama sekali buat ibuku, apalagi aku yang harus menanggung malu!”&lt;br /&gt;Esoknya ibuku tetap seorang semi dan karena kehidupan ini harus terus berjalan, akupun pasrah, toh! suatu saat nanti aku bakal tahu. Tapi kenapa kata ibu semua itu belum saatnya?. Sampai suatu pagi aku berjalan-jalan ditepi persawahan, aku melihat seorang ibu lagi duduk-duduk digubuk nampaknya dia letih sekali. Tanpa pikir panjang aku berjalan kearahnya untuk meghampirinya. Karena tak ada orang lain aku pun ikut duduk disampingnya. Ibu menyapaku dengan seulas senyum tulus dan menanyakan apa yang kukerjakan disini. Rupanya ibu ini adalah ibu fitri pemilik sawah yang kulewati. Kamu anaknya bu semi “kan? Tanyanya santai. Iya? Jawabku cengar-cengir. “Ndok.. Kamu harus bersyukur ibumu masih hidup dan sehat sampai sekarang...” Aku terkejut mendengar nasehatnya. “emangnya kenapa dengan ibuku..?” Tanyaku penasaran. “Ibumu waktu melahirkan kamu dia hampir mati dan selama mengandung kamu ibumu sering sakit-sakitan, bapakmu harus mengantar setiap seminggu sekali periksa ke dokter karena ibumu mengidap penyakit kanker rahim. Dokter menyarankan agar operasi dan menggugurkan kandunganya mumpung masih dua bulan, tapi ibumu menolak tetap mempertahankan kandungannya. Sampai sekarang Dia tetap tak mau dioperasi”. Jawabanya hanya “aku yakin Allah mengujiku dengan penyakit ini, Allah maha pengasih” Aku mendengar cerita bu fitri bagai disambar petir, tak sadar kristal-kristal bening mulai mengalir dipipiku. “Ndok..Ibumu berusaha mempertahankan kamu, dia ingin punya anak karena sudah bertahun-tahun orang tuamu Belum dikaruia anak dan ketika mengandung ibumu diuji dengan penyakitnya dan orang-orang di sini memberi nama Semi pada ibumu karena perjuanganya untuk punya anak membuahkan tunas dan bersemi yaitu kamu ndok…ibumu sosok wanita kuat dan sabar”.&lt;br /&gt;Aku semakin terseguk-seguk oleh tangisku. “Ibu maafkan Linda bu, Linda egois tidak pernah mengerti ibu, sering menyakiti ibu”. Bisik hatiku yang dishimpit rasa bersalah Aku baru tahu mengapa ibu dipanggil Semi ternyata ibu berjuang demi Aku. Belum selesai bu Fitri cerita pamanku memanggil mengajaku pulang, sambil berlalu kuucapkan terima kasih pada ibu Fitri.&lt;br /&gt;Aku dibonceng motor oleh pamanku melewati jalan-jalan sawah untuk menuju rumahku jaraknya tidak begitu jauh hanya 2km. Sampai di rumah kulihat banyak orang-orang, aku bingung dengan langkah penasaran aku masuk rumah kudapati ibu terbaring, kenapa dengan ibu, apa yang terjadi paada ibu? Orang-orang disekelilingku hanya menangis tak menjawab pertanyaanku. Suara ambulan menuju ke rumahku, petugas kesehatan langsung membawa ibuku di mobilnya.&lt;br /&gt;Aku, bapak, paman dan bibiku yang ikut masuk ambulan aku menangis dipelukan bibiku, perjalanan kerumah sakit terasa lama sekali. Aku semakin mengkhawatirkan keadaan ibu, kulihat bibir ibu pucat sekali, badanya kurus menambah kepiluan hati, kupeluk ibu dengan penuh ketulusan.&lt;br /&gt;Sampai di rumah sakit ibu lansung dibawa keruang UGD aku ikut berlari Namun seorang suster menghalangiku masuk. Bibi mengajakku duduk, bapak dan paman hanya diam. Lama sekali dokter memeriksa ibu. Tak sabar aku ingin mendengar penjelasan dari dokter. Kami serentak berdiri ketika dokter keluar dari ruangan ibu. Dokter mengajak bapakku diruangnya, bapak mengikuti dokter dibelakang. Tak berapa lama bapak keluar, ”bagaimana pak, ibu baik-baik saja kan..” berondongku yang masih terisak. “Ibumu harus dioperasi dan memerlukan donor darah. Jawab bapak dengan lesu kemudian memelukku “kita hanya bisa berdo’a pada gusti Allah ndok.. semoga kiat semua diberi kesabaran dan hikmah.” Nasehatnya tulus untukku. “Maafkan linda pak, yang sering menyakiti ibu..” ucapku dalam tangis. “sudahlah ndok? Sekarang bagaimana kita bisa mendapatkan donor darah untuk ibu” jawab bapak yang berusaha tegar&lt;br /&gt;Malam ini bapak dan paman pulang untuk memeriksa rumah tadi hanya ditinggal begitu saja, jadi yang menunggu ibu aku dan bibi”. Saat memasuki ruangan ibu dirawat suasana sepi hanya terdengar suara infus ibu. Kuhampiri ibu kupegang jemarinya, aku berusaha agar tidak menangis. Bibi hanya berdiri dibelakangku kemudian mengajakku shalat magrib,. Aku tidak tega meninggalkan ibu sendirian. Shalat berjama”ah, kuhadapkan wajah ini pada-Nya. Kurasakan shalatku begitu khusyuk, usai shalat kututup dengan do’a, “Ya…..Rabb ampuni hamba yaang lemah ini, sering menyakiti ibu, kasihani Dia seperti Dia mengasihiku diwaktu kecil hingga Sekarang , berikan kesabaran dan keikhlasan pada kami dalam menjalani ujian-Mu, Amin.&lt;br /&gt;Aku kembali keruangan ibu, kudapati matanya masih terpejam, tapi bibir ibu komat-komit, kudengarkan apa yang ibu baca. Ternyata surat at-Taubat, saat membaca ayat; 20 kulihat ada kristal-kristal bening mengalir dipipinya. Ibu…dalam keadaan seperti ini engkau masih mengingatNya. Tanpa kusadari, airmata menetes mengiringi dzikirnya, aku pun terhanyut dalam tangisku.&lt;br /&gt;Ibu sudah sadar ketika kupegang jemarinya tanganya bergerak, kupanggil bibiku kalau ibu sudah sadar, ketika ibu melihatku dan bibi senyum mengembang dari bibir pucatnya. “Ndok… ibu ingin mendengar al-Qur”an” pinta ibu pelan dengan suaranya lirih. Kusanggupi dengan aggukan tulus, tak lama kubacakan surat Ar-Rahman. Surat yang mengisahkan balasan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa, syurga yang dijanjikan penuh dengan kedamaian, sungai yang mengalir, mata air yang memberi kesejukan, bidadari bagai mutiara yang suci Kelantunkan ayat demi ayat dengan penuh kusyuk disamping ibu, begitu meresapi dalam jiwa. Pada ayat 53 “maka ni”mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan” kulihat ibu terlelap dan aku pun menyudahi membacanya, kucium kening ibu penuh kasih. Namur kusadari tidak ada hembusan angin lagi dihidung ibu. Aku panik dan berlari keluar, teriak menjerit memanggil suster agar cepat-cepat memanggil dokter.&lt;br /&gt;Dokter dan suster masuk dengan tergesa-gesa dan memeriksa ibu lama sekali, kemudian suster menutup tubuh ibu sampai kepala. Dokter apa yang terjadi dengan ibu…kanapa dok…” tanyaku semakin khawatir. “Ibumu sudah tiada, sudah kembali padaNya, sabar ya nak” jawab dokter putus harapan Aku termangu, tak kusadari bibir menjerit kuat “Ibu ….jangan tinggalkan aku bu, ibu bangun, linda janji nggak akan menuntut ibu ganti nama, aku akan bilang sama orang dan temen-temen linda bahwa ibu adalah wanita pejuang agar tetap bersemi sesuai dengan nama ibu, ibu maafkan linda, ibu….kenapa ibu diam, ibu….”isak dalam tangis, kristal-kristal bening membanjiri pipiku. “Linda, sudah waktunya ibumu kembali pada-Nya, Dia pergi dengan senyuman diwajahnya” kata-kata bibi berusaha menenangkanku.&lt;br /&gt;Ibu telah pergi menempati syurga yang dijanjikan Allah untuk hambanya yang shaleh. Ibu pergi tanpa pesan yang tertinggal hanya tauladan keikhlasan dalam menjalani ujian, menghadapi dengan senyuman tulus. Dan akhirnya, ibuku tetaplah bernama semi, tapi semi yang sekarang lain dan dihatiku Dia adalah wanita tangguh yang kukenal dalam hidupku, berjuang demi aku. Semi yang tak pernah putus asa meski kanker darahnya terus menggerogoti tubuhnya. Semi yang sabar agar tetap bersemi dalam keadaan apapun, dan kini dia telah pergi ke tempat yang lebih baik. Syurga memang pantas untukmu ibu…ini anakmu yang Bangga memillikimu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2126963696605132149-4496315615440896525?l=resensiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiku.blogspot.com/feeds/4496315615440896525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2126963696605132149&amp;postID=4496315615440896525' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2126963696605132149/posts/default/4496315615440896525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2126963696605132149/posts/default/4496315615440896525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiku.blogspot.com/2007/11/cerpenku.html' title='SEMI'/><author><name>resensi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01938588471921734853</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2126963696605132149.post-6723091195018710845</id><published>2007-11-07T21:17:00.000-08:00</published><updated>2007-11-07T21:26:10.406-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;CHANGE NOW&lt;br /&gt;Hidup didunia ini harus punya tujuan yang jelas, oleh karena itu mari pelajari peta hidup kita didunia yaitu petunjuk Al-Qur’an, hadist, ijma’, qiyas dan sumber-sumber hukum syari’ah lainya. Kita seharusnya benar-benar membaca, memahami dan mengikuti petunjuknya karena Al-Qur’an memerintahkan untuk beramar ma’ruf nahi munkar, jadikan hidup kita hanya mencari ridha Allah semata. Bekali diri dengan keimanan, ilmu pengetahuan, dan tentunya dengan kendaraan yang bisa mengantar ketujuan kita yaitu dengan ketaqwaan dan amal ibadah. Persiapkan diri untuk menjemput kejutan perubahan karena segala di dunia ini mengalami perubahan, percepatan dan budaya instan, tetapi kita jangan terombang ambing oleh zaman, harus punya perdirian dan keyakinan yang kokoh, tidak kufo alias kurang info, karena orang yang bakal menjadi pemenang adalah orang yang menguasai infomasi. Sebab jika kita tidak bisa menyesuaikan diri pada perkembangan dan perubahan, cuma bakal menjadi orang yang ketinggalan. Selanjutnya kita mau berubah atau mati, dan mau selamat sampai akhirat atau tamat riwayat ‘lawan perubahan’. Jika kita mencoba melawan perubahan pasti hanya bakal merusak atau malah hancur sendiri sebab bumi terus berputar, ada siang ada malam, maka kita juga harus bergerak dan berubah, otak harus bergerak karena jika tidak otak ini akan tumpul dan karatan.&lt;br /&gt;Saatnya menjadi sukses dengan berubah kita harus selalu melakukan banyak perubahan. Mari bikin sukses jangan pernah merasa takut gagal, kita harus jadi pemuda yang memiliki masa depan untuk merubah dunia. Perubahan yang kita lakukan tentu ada resikonya, butuh pengorbanan dan tantangan. Karena pada dasarnya fitrah manusia adalah suka akan tantangan, melakukan hal-hal baru, dan selalu ingin tahu. Bahwa menjadi orang yang professional selalu melakukan perubahan selain dapat ilmu, juga dapat pengalaman baru, tetap berusaha, terus menggali potensi dan harus punya tujuan yang jelas. Mulai dari diri sendiri dengan memperbaharui diri hari demi hari dan berusaha selalu melakukan yang terbaik agar menjadi manusia luar biasa, karena setiap orang diberi kecenderungan dan potensi yang berbeda-beda. Tugas kita mengembangkan potensi yang kita miliki, dan tentunya ingin punya kelebihan yang luar biasa dari yang lain. Satu yang paling menentukan sukses adalah tingkat ketaqwaan kita, orang lain harus iri pada kita karena inilah bukti antara takdir dan ikhtiar, kita wajib berikhtiar untuk segala kebaikan karena nasib baik tidak akan datang tanpa kita usahakan. So ubah diri kita sendiri sesuai dengan Q.S Ar-ra’d :11 musti memanej hati, memperbanyak ilmu agama, baca al-Qur’an dan buku Islam, ikut pengajian, sering bermuhasabah, serta memperbanyak Ibadah, selanjutnya terserah Allah yang memberikan nilainya. Oleh karena itu kita semua musti The Power Of Change menjadi manusia-manusia luar biasa yang paling bermanfaat akan perubahan kita, jika kita pergi orang merasa kehilangan karena mereka tidak merasa dirugikan oleh kita dan menjadi manusia yang Be Creative. Orang yang kreatif salah satunya adalah dengan berani mencoba hal-hal baru dan jika menemukan ide-ide baru langsung dilakukan karena ide harus dikeluarkan dan diekspresikan. So makin kreatif makin cerdas, apalagi kita yang masih muda agent of change dan tentunya tidak melanggar syari’at Islam. Subhanallah yes kita pemilik masa depan, semoga kita menjadi pemuda yang teguh dengan realita yang membangun cita-cita dan pembawa perubahan. Nah mau tau berubah apaan nih yaitu pertama cara berfikir kita karena semua berawal dari lintasan Pikiran-Termemorikan dalam Pikiran-kemudiam Timbul gagasan-Menguat jadi sebuah Keyakinan-Muncul sebagai Kemauan-Diwujudkan dalam Tindakan-Menjelma jadi kebiasaan dan akhirnya jadi-Watak atau Karakter kita. So, segala sesuatu tergantung cara berfikir kita tentunya harus super dan realita bukan, selain cerdas juga punya visi yang besar kedua kaya rasa jagalah hati yang senatiasa diisi dengan membaca Al-Qur’an, dzikrullah, muhasabah, ketabahan, kejujuran, kedermawanan, penuh dengan semangat dakwah dan jihad Ketiga perbaiki akhlak agar berkarakter baik dan memilih syurga tujuan kita tentunya dengan mengendalikan diri bukan, Nah kalau cara berfikir, merasa, dan cara bertindak sudah baik saatnya berubah, buka lembaran baru mulai dari Sekarang dan lakukan apa saja yang bisa dilakukan dengan semampu kita, jangan mikir imposible karena semua itu tidak sesulit yang kita bayangkan, kembangkan segala imajinasi kita dan menjadi ide yang cemerlang mulai dikit demi sedikit, jadikan semua kegagalan sebuah pengalaman yang mengasyikan karena kegagalan tidak mengimbas pada kegagalan yang lain. Mari kita bangkit dan mulai menularkan perubahah kita, artinya udah bijak ajak-ajak lagi, oleh karena itu jadilah orang besar yang secara pribadi sukses dan bisa membuat orang lain juga sukses, ‘selamat berjuang, selamat menjadi agen perubahan yang menjalani hidup sebagai orang besar’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Resensi buku Terbitan pro-U Media&lt;br /&gt;v Judul buku change now&lt;br /&gt;v Karya Rahman Hanifan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2126963696605132149-6723091195018710845?l=resensiku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensiku.blogspot.com/feeds/6723091195018710845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2126963696605132149&amp;postID=6723091195018710845' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2126963696605132149/posts/default/6723091195018710845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2126963696605132149/posts/default/6723091195018710845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensiku.blogspot.com/2007/11/change-now-hidup-didunia-ini-harus.html' title=''/><author><name>resensi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01938588471921734853</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
